Nyolong News - Hujan merupakan proses alam yang mendapat perhatian dari para ilmuan
selama bertahun-tahun. Selama penelitian berjalan, proses terbentuknya
hujan begitu sulit dipecahkan karena kurangnya tekanologi mutakhir pada
saat itu. Barulah setelah radar cuaca ditemukan, para ilmuan menemukan
titik terang tentang proses pembentukan hujan.
Dalam Jurnal yang berjudul The Atmosphere (1975) kelompok ilmuan
menuliskan bahwa terdapat tiga tahap dalam proses pembentukann hujan.
Tiga tahapan tersebut meliputi adanya bahan baku berupa awan yang
terpisah-pisah, kemudian awan tersebut bergabung membentuk titik-titik
air, dan curahan hujan pun terlihat.
Pada awal penemuan tersebut, angin dalam proses hujan hanyalah sebagai
penggerak awan. Memasuki abad 20, dengan peralatan yang lebih modern
seperti pesawat terbang, satelit, komputer, barulah ilmuan menemukan
bahwa angin memiliki fungsi yang signifikan dalam proses terbentukanya
hujan. Yakni mengawinkan uap air yang melayang di udara dengan
partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu
pembentukan awan hujan.
Temuan tentang proses hujan ini menjadi hal yang mengagumkan bagi ilmu
pengetahuan modern. Selain karena waktu yang panjang dalam proses
penelitiannya, ilmuan ini juga membutuhkan peralatan mutakhir dalam
melakukan penelitian ini. Namun penelitian ini begitu sederhana dimata
Allah SWT. Pasalnya proses terjadinya hujan tertulis jelas dalam
Al-Qur'an sejak 1400 tahun silam, yakni dalam Al-Qur'an QS Ar-Ruum ayat
48.
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan
Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari
celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya
yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira,” (QS Ar-Ruum
ayat 48)
Bahkan jika ilmuan kesulitan menemukan fungsi angin dalam proses
penelitiannya, maka Al-Qur’an juga sudah menjelaskannya dalam QS
Al-Hijr ayat 22. Dalam ayat ini disebutkan sifat angin yang mengawinkan
dan terbentuknya hujan karenanya.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan
Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air
itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”. (QS Al-Hijr ayat
22)
Ilmu pengetahuan modern, proses mengawinkan ini terjadi di atas
permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung
jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat
gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter
seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang
dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh
angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer.
Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan
bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar
partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air.
Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan
kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara
dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya
membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer
bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah
terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam
pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah
ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang
fenomena alam. Berikut ini tahapan hujan dalam Al-Qur'an dan dibenarkan oleh sains
Tahap 1
Al-Qur'an : “Dialah yang mengirim angin,…”
Sains : Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang
dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan
partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini,
yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di
atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan
dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut,
sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”.
Tahap 2
Al-Qur’an : “…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah
membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal…”
Sains : Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling
butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan
dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm),
awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi,
langit ditutupi dengan awan-awan.
Tahap 3
Al-Qur'an : “…lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya…”
Sains : Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan
partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air
hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan
dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahapan yang dicetikan dalam Al-Qur'an ternyata tidak bisa
dibantah oleh sains. Lagi-lagi Al-Qur’an menyediakan penjelasan yang
paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan
fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan
oleh ilmu pengetahuan. Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang
tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.
(Info Unik)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Posting Komentar